Muhammad memiliki kepribadian yang terpuji, ia Allah jaga dari perbuatan tercela. Perkataannya teramat jujur. Pribadinya sungguh menawan. Ia lahir dari nasab terbaik di jazirah Arab. Ia telah Allah siapkan untuk menjadi prajurit Allah di muka bumi. Pada umur 40 tahun Allah kukuhkan posisi Muhammad sebagai Rasulullah, Rasul terakhir di bumi cintanya Allah. Pengemban amanah besar untuk menyelamatkan umat manusia dari alam kebodohan yang sudah turun temurun. Muhammad memulai semuanya dari nol. Berdakwah dengan sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Melewati banyak perang. Menerima berbagai cacian, lemparan batu, ludahan da segala macam. Beliau tidak jarang dikatakan gila. Beliau tidak jarang menerima rencana pembunuhan. Tapi Allah kuatkan hatinya untuk melalui rintangan dakwah yang teramat besar itu hingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
![]() |
| Sampaikanlah Walau Satu Ayat via muslim-stan.com |
Di suatu ketika, Rasulullah pernah menghadapi kesedihan yang nyata. Tepat sebelum perang Badar berkecamuk. Kaum muslimin saat itu hanya berjumlah ratusan, sementara kaum kafir berjumlah ribuan. Dalam keadaan terdesak dan pasrah Rasulullah berdoa kepada Allah "Ya Allah, jikalau tidak Engkau menangkan muslimin di perang ini, maka tidak akan ada lagi yang akan menyembahmu di muka bumi ini". Allah mendengar rintihan kaum muslimin dan mengirimkan bala tentaranya. Para malaikat ikut membantu. Kaum muslimin memeroleh kemenangan yang nyata.
Segala halang dan rintang telah dilalui bersama para sahabat, hingga tiba di akhir hayat Rasulullah, tahukah kamu siapa yang mereka ingat? Bukankah cerita ini sudah sering diajarkan di pelajaran agama Islam atau di TPA/MDA. Ya, Rasulullah mengingat umat-umatnya kelak saat beliau meninggalkan mereka. Umat-umat yang dicintainya, mereka yang rindu kepada Rasulullah. Mereka yang menangis karena rindunya itu. Mereka yang tidak pernah sekalipun mengetahui wajah Rasullah namun mempunyai keinginan yang kuat untuk bertemu dengan Baginda. Mereka itu saya dan kamu yang sedang membaca tulisan ini. Mereka yang dirindukan Rasulullah itu adalah kita. Kita yang menjadi pelanjut estafet dakwah Rasulullah setelah Allah memanggil beliau ke sisi-Nya.
Kita adalah Da'i sebelum menjadi apapun
Ada sebuah kalimat yang sangat "sakti" menurut saya pribadi, kalimat yang menjelaskan pada kita hakikat kehidupan kita di dunia. Kalimat itu berbunyi "Nahnu Du’at qabla Kulli Syai in" yang berarti "Kita adalah da'i sebelum menjadi apapun". Kalimat tersebut dilontarkan oleh Imam Hasan Al Banna, seorang pencetus gerakan Islam, yang berarti bahwa pada hakikatnya seorang muslim adalah seorang pendakwah. Kamu adalah seorang da'i sebelum menjadi apapun. Dengan kata lain, apapun profesi kita di dunia ini, sebelum menjadi itu kita telah menjadi seorang da'i atau pendakwah. Di pundak kita masing-masing sudah ada beban dakwah yang Rasulullah titipkan semenjak kita mendengar lantunan adzan/iqamah di telinga kita atau ketika kita mengucapkan 2 kalimat syahadat untuk pertama kalinya.Jalan dakwah memang sulit, tapi berdakwah itu tidak sulit kok
Banyak sekali ayat Al-Qur'an dan hadits yang memerintahkan kita untuk berdakwah, satu yang populer adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang berbunyi "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat". Dariku yang dimaksud di sini adalah "dari Rasulullah". Terkait hadits ini banyak yang salah kaprah mengenai satu ayat yang dimaksud. Apakah ayat Al-Qur'an atau hadits. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa ayat yang dimaksud dalam hadits ini adalah pengajaran artinya apapun nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam baik melalui Al-Qur'an maupun hadits. Tidak mesti harus ayat dan hadits-nya lho. Dengan kata lain kita boleh menyampaikan dakwah dengan menyesuaikan medianya dengan zaman kita.Jalan dakwah itu memang sulit, tapi berdakwah itu tidak sulit kok. Gampang malah. Kamu mungkin setiap hari membuka facebook atau media sosial lainnya. Mengisi media sosial yang kamu punya dengan nasehat dan ajakan kepada kebaikan adalah dakwah. Membuat artikel atau konten grafis seperti pamflet kata-kata motivasi Islam atau yang mengajak kepada kebaikan secara general itu juga dakwah. Membagikan artikel yang kamu baca ini ke media sosial nanti juga dakwah. Intinya menebar kebaikan meskipun hanya sebesar biji zarah (sebagai mana yang Allah sebutkan dalam surat Al-Zalzalah).

2 Komentar untuk "Tak Perlu Menjadi Seorang Ulama untuk Menyebarkan Ajaran Kebaikan"
Setuju dan penjelasan yang BAIK perihal BER DAKWAH
Alhamdulillah saya setuju dengan
Penjelasan tentang Berdakwah .